- Sejarah Perkembangan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Felix
Bloch, bekerja di Stanford University, dan Edward Purcell, dari Harvard
University, menemukan bahwa ketika inti tertentu ditempatkan dalam
medan magnet, mereka menyerap energi dalam rentang frekuensi radio dari
spektrum elektromagnetik, dan energi yang dipancarkan ini ketika inti
atom ditransfer ke kondisi awal atom tersebut.
Kekuatan
dari medan magnet dan frekuensi radio cocok satu sama lain seperti yang
sebelumnya ditunjukkan oleh Sir Joseph Larmor dan dikenal sebagai
hubungan Larmor (yaitu, frekuensi sudut presesi dari spin nuklir yang
sebanding dengan kekuatan dari medan magnet). Fenomena ini disebut NMR
sebagai berikut:
"Nuklir" karena hanya inti atom tertentu bereaksi dengan cara itu;
"Magnetic" sebagai medan magnet yang diperlukan;
"Resonansi" karena ketergantungan frekuensi langsung dari medan magnet dan frekuensi radio.
"Magnetic" sebagai medan magnet yang diperlukan;
"Resonansi" karena ketergantungan frekuensi langsung dari medan magnet dan frekuensi radio.
Dengan penemuan NMR ini spektroskopi lahir dan segera menjadi suatu metode analisis yang penting dalam studi komposisi senyawa kimia. Untuk hal tersebut Bloch dan Purcell dianugerahi Hadiah Nobel untuk Fisika pada tahun 1952.
Dr.
Isidor Rabi, seorang fisikawan Amerika Serikat yang dianugerahi Hadiah
Nobel untuk Fisika pada tahun 1944 untuk penemuan metode sinar atom dan
molekul resonansi magnetik, mengamati spektrum atom dan menemukan
percobaan NMR pada tahun 1930-an namun menganggap percobaan itu sebagai
sebuah artefak peralatan dan diabaikan kepetingannya.
Selama 50 dan 60 NMR spektroskopi menjadi teknik yang banyak digunakan untuk analisis non-destruktif dari sampel kecil. Banyak aplikasi yang berada pada tingkat mikroskopis menggunakan magnet lapangan tinggi.
Pada akhir 60-an dan awal 70-an Raymond Damadian, seorang dokter medis Amerika di State University of New York di Brooklyn menunjukkan bahwa jaringan NMR parameter (disebut T1 waktu relaksasi) dari sampel tumor, diukur in vitro, secara signifikan lebih tinggi daripada jaringan normal .
Meskipun tidak ada konfirmasi oleh peneliti lain, Damadian bermaksud untuk menggunakan parameter NMR lainnya dalam jaringan bukan untuk pencitraan tapi untuk karakterisasi jaringan (yaitu, memisahkan jinak dari jaringan ganas).
Hal Ini masih belum tercapai terutama karena heterogenitas jaringan. Meskipun kritik telah ditujukan pada kecerdasan ilmiah Damadian, seharusnya hal ini tidak menutupi fakta bahwa deskripsi tentang perubahan waktu relaksasi dalam jaringan kanker adalah salah satu impetuses utama untuk pengenalan NMR menjadi obat.
Pada 16 Maret 1973 sebuah makalah singkat tentang NMR yang diterbitkan di Nature berjudul "Gambar formasi oleh interaksi lokal induksi, contoh menggunakan resonansi magnetik". Penulis makalah tersebut adalah Paul Lauterbur, seorang Profesor Kimia di Universitas Negara Bagian New York di Stony Brook.
Percobaan pencitraan berpindah dari dimensi tunggal spektroskopi NMR ke dimensi kedua orientasi spasial yang merupakan landasan MRI.
MRI juga berutang budi pada computed tomography (CT) seperti yang dikembangkan sebelum ada teknik MRI. Dampak yang dimiliki CT dalam komunitas medis tidak boleh diabaikan karena mendorong minat baik dari dokter dan produsen untuk dampak potensial akan teknik baru berupa MRI. Hal ini sudah menunjukkan keuntungan dari bagian tomografi melalui kepala atau tubuh pasien yang memungkinkan diagnosis proses penyakit dengan cara non-invasif.
MRI juga berutang budi pada computed tomography (CT) seperti yang dikembangkan sebelum ada teknik MRI. Dampak yang dimiliki CT dalam komunitas medis tidak boleh diabaikan karena mendorong minat baik dari dokter dan produsen untuk dampak potensial akan teknik baru berupa MRI. Hal ini sudah menunjukkan keuntungan dari bagian tomografi melalui kepala atau tubuh pasien yang memungkinkan diagnosis proses penyakit dengan cara non-invasif.
Pada 70-an dan awal 80-an sejumlah kelompok, termasuk produsen, di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan hasil yang menjanjikan dari MRI in vivo. Hal ini merupakan tantangan bagi para produsen teknologi untuk menghasilkan magnet bore yang beragam yang cukup untuk pencitraan tubuh manusia. Di Inggris salah satu kelompok produsen tersebut adalah termasuk kelompok dari Hammersmith (Profesor Steiner R & Dr (sekarang Profesor) G Bydder) berkolaborasi dengan Picker Ltd (anak perusahaan GEC) di Wembley (Dr Ian Young), dua kelompok independen di Nottingham (Profesor P Mansfield dan Dr W Moore), dan di Aberdeen (Profesor J & Mallard Dr J Hutchinson). Komersial pertama MR scanner di Eropa (dari Picker Ltd) dipasang pada tahun 1983 di Departemen Radiologi Diagnostik di Universitas Manchester Medical School (Profesor I Isherwood & B Profesor Pullen).
sumber : http://www.isbe.man.ac.uk)
- Perkembangan Alat Medis: Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Di
tahun 2012 ini sudah banyak teknologi yang berkembang di bidang medis
atau kesehatan. Perkembangan-perkembangan peralatan ini disertai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan di bidang medis adalah dua dari sekian
banyak hal yang membantu para dokter dan ahli kesehatan masa kini untuk
mendiagnosa para pasien dengan lebih akurat dan teliti. Salah satu
peralatan bantu untuk mendiagnosa suatu kondisi yang terjadi di dalam
tubuh adalah Magnetic Resonance Imaging,
alat ini digunakan untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih akurat
dibandingkan dengan penggunaan X-ray dan CT Scan untuk mendiagnosa
kondisi tertentu yang tertentu didalam tubuh pasien. Tidak seperti X-ray
atau CT Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI) tidak menggunakan radiasi ion.
Magnetic Resonance Imaging ini sendiri adalah suatu teknik penggambaran penampang tubuh berdasarkan prinsip resonansi magnetik inti atom hidrogen. Untuk mengetahui lebih lanjut, Magnetic Resonance Imaging
(MRI) adalah suatu alat kedokteran di bidang pemeriksaan diagnostik
radiologi , yang menghasilkan rekaman gambar potongan penampang tubuh atau
organ manusia dengan menggunakan medan magnet berkekuatan antara 0,064 –
1,5 tesla dan resonansi getaran terhadap inti atom hidrogen.
Komponen-komponen Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI
berbentuk berupa suatu tabung silinder yang ditengahnya terdapat ruang
kosong dimana nantinya sang pasien akan dimasukkan untuk di ambil
gambaran jaringan-jaringan yang diperlukan oleh dokter. Lebih
lengkapnya, komponen-komponen MRI adalah sebagai berikut:
- Sistem magnet yang berfungsi membentuk medan magnet. Agar dapat mengoperasikan MRI dengan baik, berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui mengenai sistem magnet yang digunakan dalam MRI : tipe magnet, efek medan magnet, magnet shielding ; shimming coil dari pesawat MRI tersebut
- Sistem pencitraan berfungsi membentuk citra yang terdiri dari tiga buah kumparan koil, yaitu :
- a) Gradien koil X, untuk membuat citra potongan sagittal
b) Gardien koil Y, untuk membuat citra potongan koronal
c) Gradien koil Z, untuk membuat citra potongan aksial
Bila gradien koil X, Y dan Z bekerja secara bersamaan maka akan terbentuk potongan oblik;
- Sistem frequensi radio berfungsi membangkitkan dan memberikan radio frequensi serta mendeteksi sinyal
- Sistem komputer berfungsi untuk membangkitkan pulse sequence, mengontrol semua komponen alat MRI dan menyimpan memori beberapa citra
- Sistem pencetakan citra, berfungsi untuk mencetak gambar pada film rongent atau untuk menyimpan citra
Keunggulan MRI Dibandingkan dengan Alat Pencitraan Lainnya
Keunggulan pengunaan MRI dibandingan alat pencitraan endoskopi lainnya ada banyak, salah satunya adalah kemampuan menampilkan detail anatomi secara jelas dalam berbagai potongan (multiplanar) tanpa mengubah posisi pasien. Selain
itu hasil pencitraan yang dihasilkan oleh MRI lebih jelas serta dapat
dilihat dari berbagai sisi tanpa melibatkan pengunaan radiasi,
memberikan hasil tanpa perlu merubah posisi
pasien, tidak menggunakan kontras untuk sebagian besar pemeriksaan MRI.
Fasilitas MRI dilengkapi dengan kemampuan untuk menilai fungsi organ
tertentu secara dinamik (Functional MRI), untuk menilai distribusi darah, baik di otak maupun di jantung (Perfusion Imaging) serta melihat metabolisme yang ada didalam sebuah tumor (Spectroscopy Imaging). Sedangkan kelebihan-kelebihan MRI dibandingkan alat pencitraan CT Scan adalah sebagai berikut:
- MRI lebih unggul untuk mendeteksi beberapa kelainan pada jaringan lunak seperti otak, sumsum tulang serta muskuloskeletal.
- Mampu memberi gambaran detail anatomi dengan lebih jelas.
- Mampu melakukan pemeriksaan fungsional seperti pemeriksaan difusi, perfusi dan spektroskopi yang tidak dapat dilakukan dengan CT Scan.
- Mampu membuat gambaran potongan melintang, tegak, dan miring tanpa merubah posisi pasien.
- MRI tidak menggunakan radiasi pengion.
Pemeriksaan
dalam dengan menggunakan MRI dapat diklasifikasikan aman sebab pada
penggunaan MRI ini sang pasien tidak terkena radiasi yang mungkin dapat
membahayakan tubuh dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu, prosedur MRI ini tidak menimbulkan sakit, kerusakan jaringan dan komplikasi-komplikasi lainnya. Namun, karena berada di medan magnet yang besar, pada saat pemeriksaan berlangsung medan magnet tersebut akan dapat menyebabkan tertariknya benda-benda yang bersifat logam, dan menyebabkan berpindahnya benda-benda bersifat logam tersebut. Dapat dibayangkan jika letak benda bersifat logam tersebut berada di dalam tubuh maka perubahan posisi dari benda bersifat logam tersebut akan dapat melukai pasien. Oleh karena itu hal yang penting untuk diinformasikan kepada pasien adalah untuk
melepas benda-benda yang bersifat logam sebelum pasien menjalani
pemeriksaan MRI. Fasilitas MRI tentu saja mengharuskan operator atau
staf radiologi untuk mengetahui keberadaan benda-benda logam di dalam
tubuh dengan menanyakan riwayat operasi atau riwayat kesehatan pasien
sebelumnya. Benda-benda logam yang ditanamkan di dalam tubuh (implant)
antara lain dapat berupa clip pada operasi aneurisma, pacemaker pada
jantung, alat bantu dengar (hearing-aid), gigi palsu, dan berbagai alat penunjang kondisi medis lainnya. Pada pasien dengan keadaan-keadaan tersebut prosedur MRI dapat dibatalkan karena resiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat melukai pasien itu sendiri.
Cara Kerja Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Tubuh
manusia sebagian besar terdiri dari air (H2O) yang mengandung 2 atom
hydrogen yang memiliki no atom ganjil (1) yang pada intinya terdapat
satu proton. Inti hydrogen merupakan kandungan inti terbanyak dalam
jaringan tubuh manusia yaitu 1019 inti/ mm3 , memiliki konsentrasi
tertinggi dalam jaringan 100 mmol/ Kg dan memiliki gaya magnetic terkuat
dari elemen lain.
Dalam aspek klinisnya, perbedaan jaringan normal dan bukan normal didasarkan pada deteksi dari kerelatifan kandungan air (proton hydrogen) dari jaringan tersebut. Sehingga melalui MRI dapat diketahui apakah di dalam tubuh pasien terdapat kanker yang merupakan jaringan tidak normal dalam tubuh manusia.
Berdasarkan
dari kondisi yang ada maka, prinsip dasar dari cara kerja suatu MRI
adalah Inti atom Hidrogen yang ada pada tubuh manusia (yang merupakan
kandungan inti terbanyak dalam tubuh manusia) berada pada posisi acak (random),
ketika masuk ke dalam daerah medan magnet yang cukup besar posisi inti
atom ini akan menjadi sejajar dengan medan magnet yang ada. Kemudian
inti atom Hidrogen tadi dapat berpindah dari tingkat energi rendah
kepada tingkat energi tinggi jika mendapatkan energi yang tepat yang
disebut sebagai energi Larmor.
Ketika
terjadi perpindahan inti atom Hidrogen dari tingkat energi rendah ke
tingkat energi yang lebih tinggi akan terjadi pelepasan energi yang
kemudian ini menjadi unsur dalam pembentukan citra atau dikenal dengan
istilah Free Induction Decay (FID). Secara sederhana prinsip tadi dapat
dilihat pada gambar di bawah ini :
|
Tingkatan Energi Sebuah Inti Atom dengan Nomer Spin
Quantum 3 |
Kemudian
perilaku atom Hidrogen lainnya ketika masuk kedalam daerah medan magnet
yang cukup besar adalah dia akan melakukan presisi ketika di dalam
medan magnet tadi diberikan lagi medan magnet pengganggu yang
frekuensinya dapat diubah-ubah sehingga dengan peristiwa tersebut dapat
dihasilkan signal FID yang akan dirubah kedalam bentuk pencitraan. Hal
ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Secara
ringkas, proses terbentuknya citra MRI dapat digambarkan sebagai
berikut: Bila tubuh pasien diposisikan dalam medan magnet yang kuat,
inti-inti hidrogen tubuh akan searah dan berotasi mengelilingi
arah/vektor medan magnet. Bila signal frekuensi radio dipancarkan
melalui tubuh, beberapa inti hidrogen akan menyerap energi dari
frekuensi radio tersebut dan mengubah arah, atau dengan kata lain
mengadakan resonansi. Bila signal frekuensi radio dihentikan
pancarannya, inti-inti tersebut akan kembali pada posisi semula,
melepaskan energi yang telah diserap dan menimbulkan signal yang
ditangkap oleh antena dan kemudian diproses computer dalam bentuk
radiograf.
sumber :http://medical-instruments11.blogspot.com











0 komentar:
Posting Komentar